Sharing Story – Everything

Ghienaa Firdausi's Blog

Pakai Jilbab Penting Gak Sih? April 28, 2009

Ikhwan-akhwat sekalian, khususnya untuk para akhwat hehe.. sejenak judul diatas pasti membuat kita bertanya-tanya, karena memang judulnya adalah sebuah pertanyaan yang diakhiri dengan tanda tanya “?”, ” pakai jilbab penting gak sih?”. so, setelah mendapati pertanyaan itu pasti anda semua sudah mempunyai jawabanya, bagi yang menjawab “penting” maka saya ucapkan selamat alias mabruk (istilah orang arab dalam memberikan selamat). yah, saya katakan selamat karena alhamdulillah anda masih dalam hidayah Allah, dan masih istikomah (komitmen) dalam agamanya, karena ternyata banyak juga saudari kita para muslimah yang masih mengaggap jilbab belum penting bahkan tidak penting, naudzubillah! oke sebelum saya menjawab pertanyaan diatas dengan jawaban “jilbab itu penting banget, wajib dan bahkan sangat butuh!!” saya akan menguaraikan pembahasan ini kedalam beberapa sub judul, asal muasal kalimat jilbab, pentingnya memakai jilbab, serta bagaimana berjilbab yg ideal. insyaAllah sebisa mungkin saya sampaikan dg bahasa yg sipalas (singkat padat dan jelas) hehe.. Selamat bersenyum simpul ^_^

-Asal muasal kalimat jilbab

Jilbab istilah bahasa indonesia yang juga merupakan istilah bahasa arab yang berasal dari kata jalbaba-yujalbibu-jilbaabun, dan mempunyai arti pakaian/sesuatu yg bisa menutupi aurot perempuan. Allah menyebut kata jilbab dalam surat Al-Ahzab ayat 59 “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Jika ditilik dalam hukum ushul fiqh, maka ayat jilbab diatas merupakan ayat yang mengandung perintah, karena Allah berfirman memakai kata perintah didalamnya. dan segala sesuatu yg Allah perintahkan mejadi wajib hukumnya utk di laksanakan. dalam al-Qur’an istilah jilbab juga disebut dalam surat An Nuur ayat 31,: “Hendaklah mereka menutupkan khumur (kerudung-nya) ke dadanya. dalam ayat ini jilbab disebut dengan al-humur, atau yang sering kita kenal dengan istilah himar/kerudung.

Okeh, jelas bukan bahwasanya istilah jilbab yg kita kenal berasal dari bahasa arab, termaktub dalam al-qur’an, difirmankan Allah dengan kalimat perintah dan menjadikan dosa jika melanggarnya dan berpahala apabila mengerjakanya. Kemudian makna jilbab adalah kain yg digunakan untuk menutupi aurot perempuan (ulama sepakat bahwa aurot perempuan adalah seluruh anggota tubuh selain muka dan telapak tangan), namun secara ‘urfi/tradisi, jilbab di gunakan untuk menutupi aurot dari kepala sampai dada. -pentingnya memakai jilbab:

1. Menutupi aurat dan menaati perintah agama islam merupakan satu2nya agama yg sangat memperhatikan segala lini kehidupan umatnya hingga hal yg terkecil. Aurat misalnya, secara manusiawi ada bagian tertentu yg manusia malu untuk menampakkanya, dan bagian itu harus selalu dalam keadaan tertutup. Dalam Islam bagian itu disebut dg aurot..satrul aurot (menutupi aurot) menjadi wajib hukumnya dalam islam, karena islam sangat menjunjung tinggi harga diri seorang hambanya. menutup aurot juga merupakan syarat diterimanya sholat. maka jika kita membiarkan aurot terbuka, berarti kita telah melanggar perintah Allah, dan pasti kan mendapat dosa. para akhwat sekalian pasti sudah pada tahu umur berapa diwajibkan menutup aurot? batas usia baligh bagi akhwat adalah setelah keluar darah haidl, dan pada masa itulah segala amal perbuatan manusia di hisab, juga mulai masa itulah anda sudah diwajibkan menutup aurat. Memakai jilbab, baju kurung, kaos kaki, manset atau pakaian apa saja yg menutupi seluruh anggota badan tubuh kecuali muka dan wajah. nah jika ternyata sekarang umur anda melebihi batas baligh kemudian belum memakai jilbab, maka otomatis belum menutup aurot dan akan mendapatkan dosa, lantaran melanggar perintah Allah. sesering anda tidak menutupi aurot maka sebanyak itu dosa yg kan anda apatkan..wuih serem, na’udzubillah min dzalik!!

2. Menjaga harga diri seorang muslimah (iffah) dalam terusan ayat jilbab surat al ahzab 59 disebutkan “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” point kedua dari pentingnya berjilbab adalah untuk menjaga harga diri. menjaga diri kita dari segala hal, menjaga martabat seorang muslimah, menjaga keamanan, menjaga keimanan dan banyak hal yg bisa kita jaga dengan memakai jilbab. ibarat body guard, jilbab merupakan body guard yg paling handal, yang selalu mengawal diri kita dan menjaga diri kita kapanpun dan dari apapun yg dapat membahayakan kita secara jasmani maupun rohani. bahkan menjadi body guard yg paling indah, karena memakai jilbab kan menjadikan anda lebih cantik dan anggun, melebihi apa yg dilakukan cream kecantikan wajah yg paling ampuh apapun, karena memakai jilbab kan menampakkan kecantikan luar maupun dalam, suerr!!

“Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal”, jilbab merupakan tanda pengenal bagi seorang muslimah, yg membedakan identitas keagamaan, keimanan dan juga ketakwaan. membedakan identitas keagamaan sudah jelas, karena hanya wanita yg memeluk agama islam saja lah yg diwajibkan memakai jilbab kapan pun n dimanapun. namun membedakan identitas keimanan dan ketakwaan inilah yg paling esensial, why? karena meskipun sudah menjadi seorang muslimah, ternyata masih banyak juga yg belum memakai jilbab, nah muslimah yg seperti itulah yg belum mantap keimanan dan ketakwaanya.

“Karena itu mereka tidak di ganggu”. dan kemudian setelah anda sudah memakai jilbab maka anda akan merasa tenang dan aman dari berbagai gangguan. gangguan apapun itu. gangguan keamanan misalnya, jika kita menilik kepada kasus2 pelecehan seksual, sebenarnya kita tidak bisa melulu menyalahkan kepada sang pelaku, namun sebenarnya sang korban pun juga patut disalahkan. sesuai hukum kausalitas, ada sebab ada akibat, akibat adanya pelecehan itu pasti ada penyebabnya, salah satunya dalam segi berpakaian. coba kita amati, kebanyakan yg menjadi korban pelecehan itu bagaimanakah pakaianya?, aurot mereka terbuka atau tertutup?, lekukan tubuh dipakaian mereka nampak atau tidak?, hingga apakah ketika terjadi peristiwa itu mereka sedang memakai pakaian tertutup dan mengenakan jilbab?? pasti anda semua mempunyai jawaban yg jujur mengenai hal itu.

Jilbab juga menjaga keamanan hati, pasti anda semua merasakan bahwa pakaian berpengaruh terhadap tingkah laku kita. orang yg berpakaian asal2an dy pasti kan bertindak asal2an. aristoteles, filosofis yunani yg masyhur mengatakan:” manusia adalah apa yg ia pikirkan”. so ketika pikiran kita sudah amburadul, akal sehat sudah terbius dengan hawa nafsu maka kita pun kan berpakaian sesuai apa yg kan kita perbuat, sehingga dia tidak lagi memikirkan apa itu esensi berpakaian, dikarenakan rasa malunya sudah hilang, dan dia pun akan berbuat semaunya. pepatah arab mengatakan: “jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesuka kamu”.

Berbeda ketika pakaian yg kita gunakan adalah pakaian yg menutup aurot dan islami, kita merasa terbatasi utk melakukan perbuatan yg melanggar. contohnya kita memakai pakaian resmi pegawai negri / pakaian seragam sekolah, ketika kita hendak berbuat yg melanggar pasti kita kan mikir2 dulu, takut membuat malu nama pegawai negri, atau menodai keharuman almamater kita, dan akhirnya pakaian itulah yg mencegah kita utk berbuat melanggar. apalagi pakaian yg islami yg di kenakan, ia selalu menjaga pribadi sang pemakaianya, dalam al-qur’an disebutkan: “pakaian takwa adalah sebaik2 pakaian untukmu”. maka jilbab dan pakaian yg menutupi aurot adalah pakaian yg bisa menguatkan ketakwaan dan keimanan seorang hamba. and anda para muslimah “butuh” jilbab untuk menjaga harga diri dan keamanan, jasmani maupun rohani. ” Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, nih ganjaran yg kan diterima oleh mereka yg memakai jilbab sesuai dengan syariat islam, mendapat ampunan dan kasih sayang! siapa sih yg tidak ingin diampuni dosa2nya oleh Allah, dan selalu disayangi oleh Nya! jika kita ingin selalu mendapatkan ampunan dan kasih sayangnya, makai memakai jilbab merupakan hal yg mutlak yg harus dilaksanakan.

Nah, panjang lebar pemaparan ttg pentingnya berjilbab baik itu sebagai perintah agama maupun sebagai kebutuhan dalam hidup, maka saya sekali lagi kan menjawab judul pertanyaan diatas, -pakai jilbab penting gak sih?- pakai jilbab itu penting banget, wajib dan bahkan butuh!! okeh, semoga anda semua terpuaskan dengan berbagai argumen di atas. namun sebelum menutup catatan ini, saya mau membahas dua ponit lagi yg tidak kalah penting dalam berjilbab, yaitu bagaimana berjilbab yg ideal? berjilbab yg ideal adalah:

1.diniatkan tulus karena Allah memakai jilbab bukan sekedar menggugurkan kewajiban, atau sebagai upaya menaati perintah namun memakai jilbab kan mendapatkan pahala dan lebih bermanfaat jika diniatkan tulus karena Allah. memakai jilbab itu harus ikhlas karna Allah, bukan karena paksaan, bukan karena pingin dilihat orang cantik, bukan karena ada acara tertentu, dan bukan karena menutupi aib yg ada di bagian atas tubuh anda. namun sekali lagi memakai jilbab tulus karena mengharapkan ridho Allah, dan sebagai bentuk ibadah kita. karena segala yg kita lakukan bernilai ibadah tatkala itu diniatkan mencari ridho Allah, dan tujuan manusia diciptakan di dunia tidak lain adalah untuk beribadah,”dan tidak lah kami menciptakan jin dan manusia melainkan utk beribadah” al baqoroh.

2.menutupi seluruh anggota tubuh dewasa ini manusia semakin kreatif, banyak inovasi dan variasi dalam gaya hidup, hingga cara berpakaian pun juga mengalami perubahan dan variasi. adalah “mode/trend” sesuatu yg membuat manusia berubah dalam gaya hidup dan berpakaianya. berjilbab pun juga terkena virus yang kadang membius sang pemakainya untuk menjadi bebek/budak, lantaran virus mengikuti “mode/trend” menjadikan seseorang budak untuk mengikuti apa yg diinginkanya, serta menyuruhnya taat untuk melakukan apa yg dikehendakinya. tidak jauh beda dg bebek yg hanya mengekor pada kawanan bebek lainya yg ternyata mereka semua tidak tahu mengapa dan untuk apa mereka melakukanya.(jd teringat buku O.Solihin “jangan jadi bebek”) okeh to the point, pokoknya mode dan trend berpakain menjadikan jilbab menciut ukuranya, bahkan wewenangnya untuk menutupi seluruh tubuh guna menjadi gaun yg anggun bagi seorang muslimah, turun posisi menjadi alat penutup kepala saja. disebabkan wewenangnya sudah di ambil alih oleh pakaian2 ketat,kecil dan pendek yg menonjolkan aurat seorang wanita. ibarat jika jilbab hanya sebagai penutup kepala saja. maka pada hakekatnya dia tidaklah berjilbab, karena aurot lain masih terbuka, dan sesungguhnya jilbab dikenakan untuk menutupi semua aurot, melindungi lekukan tubuh dan tonjolan bagian tubuh wanita yg sangat vital. so jika ternyata berjilbab ternyata tidak menutupi seluruh tubuh (minimal dada) dan masih menampakkan bentuk tubuh wanita yg tidak seharusnya ditampakkan, apakah itu masih bisa disebut berjilbab? apakah agama memerintahkan anda untuk memakai jilbab sesuai dengan tren dan mode? ataukah ketika anda berjilbab sedemikian, anda sedang menaati perintah agama atau malah menaati perintah mode? biarkan hati nurani anda yg jujur menjawabnya en the last..saya ucapkan tahniah dan selamat bagi anda yg saat ini sudah memakai jilbab yg shar’i dan masih tetap konsekwen dalam memakainya, kemudian bagi anda para muslimah yg belum memakai jilbab dan memahami pentingnya berjilbab semoga segera tergugah dan bangun dari kelalaian, segeralah memakai jilbab, jangan ditunda, karena siapakah anda yg bisa menjamin dan menunda masa hidup di dunia, selagi bisa lakukanlah segera. mintalah ampunan Allah atas kelalaian anda sebelumnya, karena Allah maha pengampun lagi maha penyayang hamba2nya yg taat kepadaNya moga catatan sederhana ini menjadi bahan renungan bersama, upaya saling menasehati (tawasaw bil haq was shobr) untuk lebih memahami perintah agama, dan memaknai segala apa yg Allah perintahkan kepada hambanya, sehingga kita betul2 menjadi hamba Allah yg taat yg selalu istikomah (konsisten) dalam ajaranya.amin

nasr city, kairo

selasa,28 april 09

muhammad nidauddin

Advertisements
 

5 Responses to “Pakai Jilbab Penting Gak Sih?”

  1. tika Says:

    assalam mualaikum
    sebelumnya salam kenal..
    saya seorang muslim tapi belum memakai jilbab karena saat ini banyak macam-macam
    jilbab yang hanya menutup kepala.
    sedangkan dalam alQuran di jelaskan memakai jilbab yaitu menutupi seluruh anggota tubuh tanpa memperlihatkan lekuk tubuh kecuali telapak tangan dan muka
    dan yang membuat saya ragu adalah banyak orang jaman sekarang yang memakai jilbab tapi masih memperlihatkan lekuk tubuh.saya mohon pendapat anda agar saya tak ragu2 dalam melangkah.tolong balas ke e-mail saya
    wassalam

  2. Gina Firdausi Says:

    @Tika…. Makasih buat comment.a…
    OK nnti saya kirim lewat email ya…

    @etikush : artikel.a bagus… Nice blog…. ^lol^

    to All… Maaf baru kali ini balas comment.a….
    soal.a aq bru login lagi….
    Afwan ya….. 🙂

  3. Aa JimJim Says:

    Assalamualaikum…Gimana kalo pake Jilbab ala Ninja,,alias Cuman kliatan Muka Doanx….?Kan Cerem Jugha Twuchhhh…..Mhon pnjelasa nya Ceu….

  4. @Aa JimJim a.k.a A’sansan (^lol^) : Wa Alaikumsalaam… Bukan kelihatan muka doank A… tpi cmn kelihatan mata doank a.k.a pke cadar…..H3………..
    ini Na kzi pnjlasan.a biar jelas…^^

    Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
    Bismillahirrahmanirrahim.

    Masalah kewajiban memakai cadar sebenarnya tidak disepakati oleh para ulama. Maka wajarlah bila kita sering mendapati adanya sebagian ulama yang mewajibkannya dengan didukung dengan sederet dalil dan hujjah. Namun kita juga tidak asing dengan pendapat yang mengatakan bahwa cadar itu bukanlah kewajiban. Pendapat yang kedua ini pun biasanya diikuti dengan sederet dalil dan hujjah juga.

    Dalam kajian ini, marilah kita telusuri masing-masing pendapat itu dan berkenalan dengan dali dan hujjah yang mereka ajukan. Sehingga kita bisa memiliki wawasan dalam memasuki wilayah ini secara bashirah dan wa’yu yang sepenuhnya. Tujuannya bukan mencari titik perbedaan dan berselisih pendapat, melainkan untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang dasar isitmbath kedua pendapat ini agar kita bisa berbaik sangka dan tetap menjaga hubunngan baik dengan kedua belah pihak.

    1. Kalangan yang Mewajibkan Cadar

    Mereka yang mewajibkan setiap wanita untuk menutup muka (memakai niqab) berangkat dari pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat wanita yang wajib ditutup dan haram dilihat oleh lain jenis non mahram.

    Dalil-dalil yang mereka kemukakan antara lain:

    1. Surat Al-Ahzab: 59

    “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzah: 59)

    Ayat ini adalah ayat yang paling utama dan paling sering dikemukakan oleh pendukung wajibnya niqab. Mereka mengutip pendapat para mufassirin terhadap ayat ini bahwa Allah mewajibkan para wanita untuk menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka termasuk kepala, muka dan semuanya, kecuali satu mata untuk melihat. Riwayat ini dikutip dari pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ubaidah As-Salmani dan lainnya, meskipun tidak ada kesepakatan diantara mereka tentang makna ‘jilbab’ dan makna ‘menjulurkan’.

    Namun bila diteliti lebih jauh, ada ketidak-konsistenan nukilan pendapat dari Ibnu Abbas tentang wajibnya niqab. Karena dalam tafsir di surat An-Nuur yang berbunyi (kecuali yang zahir darinya), Ibnu Abbas justru berpendapat sebaliknya.

    Para ulama yang tidak mewajibkan niqab mengatakan bahwa ayat ini sama sekali tidak bicara tentang wajibnya menutup muka bagi wanita, baik secara bahasa maupun secara ‘urf (kebiasaan). Karena yang diperintahkan justru menjulurkan kain ke dadanya, bukan ke mukanya. Dan tidak ditemukan ayat lainnya yang memerintahkan untuk menutup wajah.

    2. Surat An-Nuur: 31

    “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.” (QS An-Nur: 31).

    Menurut mereka dengan mengutip riwayat pendapat dari Ibnu Mas’ud bahwa yang dimaksud perhiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah wajah, karena wajah adalah pusat dari kecantikan. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘yang biasa nampak’ bukanlah wajah, melainkan selendang dan baju.

    Namun riwayat ini berbeda dengan riwayat yang shahi dari para shahabat termasuk riwayt Ibnu Mas’ud sendiri, Aisyah, Ibnu Umar, Anas dan lainnya dari kalangan tabi’in bahwa yang dimaksud dengan ‘yang biasa nampak darinya’ bukanlah wajah, tetapi al-kuhl (celak mata) dan cincin. Riwayat ini menurut Ibnu Hazm adalah riwayat yang paling shahih.

    3. Surat Al-Ahzab: 53

    “Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka , maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.” (QS Al-Ahzab: 53)

    Para pendukung kewajiban niqab juga menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat bahwa wanita wajib menutup wajah mereka dan bahwa wajah termasuk bagian dari aurat wanita. Mereka mengatakan bahwa meski khitab ayat ini kepada istri Nabi, namun kewajibannya juga terkena kepada semua wanita mukminah, karena para istri Nabi itu adalah teladan dan contoh yang harus diikuti.

    Selain itu bahwa mengenakan niqab itu alasannya adalah untuk menjaga kesucian hati, baik bagi laki-laki yang melihat ataupun buat para istri nabi. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat ini bahwa cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka (istri nabi).

    Namun bila disimak lebih mendalam, ayat ini tidak berbicara masalah kesucian hati yang terkait dengan zina mata antara para shahabat Rasulullah SAW dengan para istri beliau. Kesucian hati ini kaitannya dengan perasaan dan pikiran mereka yang ingin menikahi para istri nabi nanti setelah beliau wafat. Dalam ayat itu sendiri dijelaskan agar mereka jangan menyakiti hati nabi dengan mengawini para janda istri Rasulullah SAW sepeninggalnya. Ini sejalan dengan asbabun nuzul ayat ini yang menceritakan bahwa ada shahabat yang ingin menikahi Aisyah r.a. bila kelak Nabi wafat. Ini tentu sangat menyakitkan perasaan nabi.

    Adapun makna kesucian hati itu bila dikaitkan dengan zina mata antara shahabat nabi dengan istri beliau adalah penafsiran yang terlalu jauh dan tidak sesuai dengan konteks dan kesucian para shahabat nabi yang agung.

    Sedangkan perintah untuk meminta dari balik tabir, jelas-jelas merupakan kekhusususan dalam bermuamalah dengan para istri Nabi. Tidak ada kaitannya dengan ‘al-Ibratu bi ‘umumil lafzi laa bi khushushil ayah’. Karena ayat ini memang khusus membicarakan akhlaq pergaulan dengan istri nabi. Dan mengqiyaskan antara para istri nabi dengan seluruh wanita muslimah adalah qiyas yang tidak tepat, qiyas ma’al fariq. Karena para istri nabi memang memiliki standar akhlaq yang khusus. Ini ditegaskan dalam ayat Al-Quran.

    “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,” (QS. Al-ahzab : 32)

    4. Hadits Larang Berniqab bagi Wanita Muhrim

    Para pendukung kewajiban menutup wajah bagi muslimah menggunakan sebuah hadits yang diambil mafhum mukhalafanya, yaitu larangan Rasulullah SAW bagi muslimah untuk menutup wajah ketika ihram.

    “Janganlah wanita yang sedang berihram menutup wajahnya (berniqab) dan memakai sarung tangan”.

    Dengan adanya larangan ini, menurut mereka lazimnya para wanita itu memakai niqab dan menutup wajahnya, kecuali saat berihram. Sehingga perlu bagi Rasulullah SAW untuk secara khusus melarang mereka. Seandainya setiap harinya mereka tidak memakai niqab, maka tidak mungkin beliau melarangnya saat berihram.

    Pendapat ini dijawab oleh mereka yang tidak mewajibkan niqab dengan logika sebaliknya. Yaitu bahwa saat ihram, seseorang memang dilarang untuk melakukan sesautu yang tadinya halal. Seperti memakai pakaian yang berjahit, memakai parfum dan berburu. Lalu saat berihram, semua yang halal tadi menjadi haram. Kalau logika ini diterapkan dalam niqab, seharusnya memakai niqab itu hukumnya hanya sampai boleh dan bukan wajib. Karena semua larangan dalam ihram itu hukum asalnya pun boleh dan bukan wajib. Bagaimana bisa sampai pada kesimpulan bahwa sebelumnya hukumnya wajib?

    Bahwa ada sebagian wanita yang di masa itu menggunakan penutup wajah, memang diakui. Tapi masalahnya menutup wajah itu bukanlah kewajiban. Dan ini adalah logika yang lebih tepat.

    5. Hadits bahwa Wanita itu Aurat

    Diriwayatkan oleh At-Tirmizy marfu’an bahwa,

    “Wanita itu adalah aurat, bila dia keluar rumah, maka syetan menaikinya.”

    Menurut At-turmuzi hadis ini kedudukannya hasan shahih. Oleh para pendukung pendapat ini maka seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, termasuk wajah, tangan, kaki dan semua bagian tubuhnya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sebagian pengikut Asy-Syafi’iyyah dan Al-Hanabilah.

    6. Mendhaifkan Hadits Asma’

    Mereka juga mengkritik hadits Asma’ binti Abu Bakar yang berisi bahwa, “Seorang wanita yang sudah hadih itu tidak boleh nampak bagian tubuhnya kecuali ini dan ini.” Sambil beliau memegang wajar dan tapak tangannya.

    2. Kalangan yang Tidak Mewajibkan Cadar

    Sedangkan mereka yang tidak mewajibkan cadar berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat wanita. Mereka juga menggunakan banyak dalil serta mengutip pendapat dari para imam mazhab yang empat dan juga pendapat salaf dari para shahabat Rasulullah SAW.

    1. Ijma’ Shahabat

    Para shahabat Rasulullah SAW sepakat mengatakan bahwa wajah dan tapak tangan wanita bukan termasuk aurat. Ini adalah riwayat yang paling kuat tentang masalah batas aurat wanita.

    2. Pendapat Para Fuqoha Bahwa Wajah Bukan Termasuk Aurat Wanita.

    Al-Hanafiyah mengatakan tidak dibenarkan melihat wanita ajnabi yang merdeka kecuali wajah dan tapak tangan. (lihat Kitab Al-Ikhtiyar). Bahkan Imam Abu Hanifah ra. sendiri mengatakan yang termasuk bukan aurat adalah wajah, tapak tangan dan kaki, karena kami adalah sebuah kedaruratan yang tidak bisa dihindarkan.

    Al-Malikiyah dalam kitab ‘Asy-Syarhu As-Shaghir’ atau sering disebut kitab Aqrabul Masalik ilaa Mazhabi Maalik, susunan Ad-Dardiri dituliskan bahwa batas aurat waita merdeka dengan laki-laki ajnabi (yang bukan mahram) adalah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Keduanya itu bukan termasuk aurat. Asy-Syafi’iyyah dalam pendapat As-Syairazi dalam kitabnya ‘al-Muhazzab’, kitab di kalangan mazhab ini mengatakan bahwa wanita merdeka itu seluruh badannya adalah aurat kecuali wajah dan tapak tangan.

    Dalam mazhab Al-Hanabilah kita dapati Ibnu Qudamah berkata kitab Al-Mughni 1: 1-6, “Mazhab tidak berbeda pendapat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan tapak tangannya di dalam shalat.”

    Daud yang mewakili kalangan zahiri pun sepakat bahwa batas aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuai muka dan tapak tangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Nailur Authar. Begitu juga dengan Ibnu Hazm mengecualikan wajah dan tapak tangan sebagaiman tertulis dalam kitab Al-Muhalla.

    3. Pendapat Para Mufassirin

    Para mufassirin yang terkenal pun banyak yang mengatakan bahwa batas aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Mereka antara lain At-Thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razy, Al-Baidhawi dan lainnya. Pendapat ini sekaligus juga mewakili pendapat jumhur ulama.

    4. Dhai’ifnya Hadits Asma Dikuatkan Oleh Hadits Lainnya

    Adapun hadits Asma’ binti Abu Bakar yang dianggap dhaif, ternyata tidak berdiri sendiri, karena ada qarinah yang menguatkan melalui riwayat Asma’ binti Umais yang menguatkan hadits tersebut. Sehingga ulama modern sekelas Nasiruddin Al-Bani sekalipun meng-hasankan hadits tersebut sebagaimana tulisan beliau ‘hijab wanita muslimah’, ‘Al-Irwa’, shahih Jamius Shaghir dan ‘Takhrij Halal dan Haram’.

    5. Perintah Kepada Laki-laki untuk Menundukkan Pandangan.

    Allah SWT telah memerintahkan kepada laki-laki untuk menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar). Hal itu karena para wanita muslimah memang tidak diwajibkan untuk menutup wajah mereka.

    “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS An-Nuur : 30)

    Dalam hadits Rasulullah SAW kepada Ali r.a. disebutkan bahwa, “Jangan lah kamu mengikuti pandangan pertama (kepada wanita) dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama itu untukmu dan yang kedua adalah ancaman/dosa.” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmizy dan Hakim).

    Bila para wanita sudah menutup wajah, buat apalagi perintah menundukkan pandangan kepada laki-laki. Perintah itu menjadi tidak relevan lagi.

    Wallahu a’lam bishshawab.
    Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

    -Ahmad Sarwat, Lc.-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s